Bangkit setiap Hari

 

Biasanya yang dibayangkan orang tentang kebangkitan adalah kehidupan baru pasca kematian untuk hidup di “sana”, bukan di “sini”, di dunia lain atau surga, bukan dalam dunia ini.

Pikiran tersebut setidaknya terdapat di antara orang-orang yang masih percaya akan adanya kekekalan. Kematian dipandang sebagai jalan menuju kebangkitan.  Beralih dari kehidupan di dunia ini kepada kehidupan baru yang kekal abadi. Karena mengandung dimensi kekekalan, maka hidup baru di dunia ‘sana’ dipandang lebih tinggi. Sebuah kehidupan ideal yang menjadi dambaan banyak orang yang masih beragama. Hidup di ‘sana’ penuh puji-pujian, tak ada tangisan dan rapatan duka cita. Kemiskinan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang menjadi “hantu” dalam kehidupan di dunia ini sama sekali tak terdengar gaungnya. Di sana orang hidup bahagia dalam kasih persaudaraan bersama Tuhan Sang pemilik kehidupan, yang memerintah dengan kebenaran, keadilan, dan kasih. Begitulah proyeksi dan imajinasi orang-orang beragama tentang surga dan kehidupan yang abadi di sana. Entah hal itu hanyalah proyeksi dari harapan manusia yang beragama tentang sebuah dunia ideal yang muncul ketika ia berhadapan dengan kesulitan dan kesukaran dalam kehidupan di dunia ini, ataukah memang begitulah adanya dunia di sana sehingga di imani. Tak ada satu pun yang tahu. Biarlah harapan atau proyeksi itu tetap menjadi sebuah misteri iman, yang akan terbukti dengan pasti manakala kita mati. Namun, sebagai harapan, biarlah iman akan kekekalan tetap hidup untuk menjadi panduan orang beriman dalam mengerjakan kehidupannya hari ini.

Hanya saja, yang mesti dicermati dan dikoreksi dalam iman akan kekekalan itu adalah sikap merendahkan kehidupan di masa kini dalam dunia ini. Sebab seringkali terjadi bahwa manusia memandang dan memaknai hidup secara dualistik. Dunia di sana dipisahkan secara tajam dengan dunia di sini, bahkan di antara keduanya di bangun tempok tinggi tebal, sehingga tak ada sama sekali cela untuk saling menatap. Alhasil, kehidupan di kedua dunia tersebut, sini dan sana, saling terpisah dan tak punya hubungan satu dengan yang lain. Dan biasanya yang akan muncul sebagai konsukuensi dari dualisme semacam itu adalah sikap merendahkan kehidupan di dunia ini karena dipandang telah tercemari dosa dan dipenuhi banyak penderitaan.

Iman Kristen tidaklah memandang dunia secara dualistik seperti itu. Dunia sana, surga dan kehidupan kekal adalah harapan iman, tetapi hidup di sini dalam dunia ini adalah realitas iman yang harus dijalani dengan penuh penghargaan. Harapan perlu realisasi. Dan itu terjadi dalam realitas hari ini. Hidup masa datang adalah hidup masa kini yang sedang dituju, dan hidup masa kini adalah hidup masa datang yang sedang dikerjakan. Dalam pengertian yang seperti ini, hidup di sana dan di sini ada dalam suatu relasi yang tak terputus. Dan dalam relasi inilah spirit masa datang, harapan akan masa depan akan mentrnasformasi hidup di masa kini. Pandangan dan keyakinan yang demikian dikukuhkan oleh kisah kebangkitan Yesus Kristus. Yesus bangkit dalam dunia ini. Ia masih tetap berpijak di atas tanah yang sama. Menyatakan diri dan berhubungan kembali dengan orang-orang yang Ia kenal, orang-orang yang hidup di dunia di sini. Yesus hadir nyatakan tubuh kebangkitanNya  saat para muridNya sedang bekerja, melangsungkan tugas sehari-hari mereka. Mereka berkarya untuk memperjuangkan hidup mereka di dunia ini. Para murid yang berprofesi sebagai nelayan kembali menjala ikan seperti sediakala. Dalam penyataan tubuh kebangkitan di danau Galilea, Yesus bahkan mempersiapkan jamuan makan bagi mereka. Sama seperti Ia menjamu sepasang kekasih di Emaus setelah menghabiskan percakapan dalam perjalanan bersama selama beberapa jam.

Kisah tersebut menegaskan bahwa Allah dalam Yesus sangat menjungjung tinggi kehidupan manusia di dunia ini. Ia hadir dalam kisah hidup yang sangat sehari-hari dari manusia, kerja dan makan. Melalui kerja manusia mengekspresikan dan mengeksplorasikan potensi yang dianugerahkan Allah untuk membuat kehidupannya jadi lebih berarti. Sedangkan lewat jamuan makan, kasih kebersamaan dirangkai secara sosial. Biasanya, di atas meja makan nilai-nilai etik, budaya, dan iman turut disampaikan juga. Dengan begitu, Allah dalam Yesus menghendaki supaya spirit kebangkitan itu hidup dalam keseharian kita. Meskipun ada banyak masalah yang sering datang mendera. Cobaan pun datang menyesah. Namun, Yesus menginginkan supaya kita tidak menyerah. Ia mau kita bangkit setiap hari.

Bangkit mengembangkan diri. Bertumbuh dalam nilai-nilai iman menuju keserupaan dengan Yesus, karena di dalam Dia Allah telah membuat kita menjadi ciptaan baru yang ditempatkan di dunia ini. Yesus sudah memberikan teladan bagi kita, gerejaNya. Kini, kesempatan kita untuk menghidupkan teladan Yesus itu dalam kehidupan kita. Mari kita melakukannya dengan sukacita. Tak perlulah memandang hal ini sebagai sesuatu yang amat sulit, meskipun hal ini tidak mudah juga. Sebab, Yesus sudah membuka jalan untuk kita, dan Ia akan selalu ada bersama kita. Tinggal kita ikuti saja jalanNya, dan hidup dalam kuasa kebangkitanNya. Maka segala sesuatu akan dapat kita tanggung dalam Dia yang selalu setia memberi kekuatan kepada kita. Amin!

admin Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *