Dari Tanah Tinggi Menuju Muenchen

 

“…Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Lukas 10:2)

 

Semua orang sudah maklum bahwa gereja adalah orangnya. Gereja tidak mungkin ada tanpa orang. Apa artinya gedung gereja megah bila tiada yang mengisinya? Maka gedung gereja tersebut tidak lebih dari rumah kosong, tiada berfaedah. Anda mungkin sering melihat rumah tanpa penghuni yang akhirnya hancur karena tidak ada yang merawat.  Gereja tanpa orang bernasib sama seperti rumah-rumah kosong yang rusak di kompleks-kompleks perumahan. Tegasnya, tanpa orang, gereja tidak ada, sebab, gereja adalah orangnya.

Akan tetapi, bagaimana kalau gereja mempunyai banyak anggota, namun hanya sedikit yang bekerja. Terdapat banyak pengunjung ibadah, tetapi sedikit sekali yang mau aktif melayani. Ada banyak nama yang mengisi struktur pelayanan, seperti Majelis, Pengurus Komisi, Guru Sekolah Minggu, Paduan Suara, dan Kepanitiaan, tetapi dari sekian banyak nama itu hanya dua-tiga yang giat menunaikan tugas. Apa yang sedang terjadi di gereja yang seperti ini? Apakah kondisi ini disebabkan karena gereja tidak mempunyai visi?

Ada yang berkata bahwa visi sangat penting dalam organisasi apapun, termasuk gereja. Visi memberi arah, memacu semangat, dan lebih penting lagi, visi itu mempersatukan “aku” dan “engkau” menjadi “kita”. Kalau gereja tidak memiliki visi, maka kondisi sepi dan minim partisipasi bisa dimaklumi. Tetapi bagaimana bila gereja sudah mempunyai visi, strategi, program, dan pemberian tugas-wewenang, tetapi tetap minim keterlibatan. Apakah karena visi, strategi, dan programnya tidak menarik dan tugasnya tidak menantang?

Bisa jadi! Visi harus menarik. Strategi mesti tepat. Program harus bisa mendarat. Pemberian dan pembagian tugas pun mesti jelas. Para pakar manajemen organisasi mengingat hal tersebut, dan gereja perlu belajar dari mereka, sebab gereja, selain organisme, adalah organisasi. Akan tetapi, bagaimana jika semua yang dianjurkan ilmu manajemen itu sudah dilakukan, meskipun terdapat kelemahan dan kekurangan, tetapi ternyata hanya sedikit yang mau mengambil bagian?

Kalau kondisinya seperti itu, menurut saran seorang sahabat, orang-orangnya yang harus dilihat. Warga jemaatnya yang harus dikenali. Mungkin mereka sibuk dengan tugas-tugas rumah dan kantor. Benar. Mungkin rumah mereka jauh dari gedung gereja. Benar. Mungkin mereka mempunyai keterbatasan tertentu, seperti katakanlah ekonomi. Benar. Dan, mungkin juga mereka berpandangan bahwa persekutuan, kesaksian, dan pelayanan di gereja bukanlah sesuatu yang harus menjadi prioritas juga. Nah, yang ini, faktor ini, bisa jadi, benar.

Bila semua benar, lalu apa yang akan dilakukan? Tenang, jangan pesimis. Harapan itu selalu ada. Kondisi ini adalah kenyataan. Realita yang apa adanya. Orang Jerman menyebutnya das sein. Dengan mengenal kenyataan berarti kita telah dibantu untuk mengatasi persoalan. Dalam konteks pelayanan, Yesus pun pernah mengungkapkan sebuah pernyataan yang mencerminkan das sein pada masa itu. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit”. Akan tetapi, kenyataan itu tidak membuat Yesus patah arang. Semangat pelayanan Ia hidupkan.Pengutusan terhadap 70 murid tetap Ia laksanakan.

Setelah mengenal das sein, kenyataan yang apa adanya, gereja dan umat perlu juga mengenal kondisi yang seharusnya ada. Ini adalah kenyataan ideal yang hendak dituju. Anak-anak asuh Pep Guardiola di Muenchen, Jerman, menyebutnya das sollen. Apa yang seharusnya ada itu?

Alkitab memberikan kepada kita sebuah gambaran yang ideal tentang gereja. Gereja adalah koinonia. Persekutuan. Persekutuan dengan siapa? Persekutuan dengan Kristus dan sesama. Gereja adalah tubuh Kristus, di mana Ia menjadi kepalanya. Tubuh Kristus ini dianugerahkan sekaligus dipanggil oleh Allah. Dianugerahkan, berarti gereja dibentuk oleh Allah. Fakta iman ini yang membuat gereja berbeda dari organisasi lain. Allah juga memberikan misi, mandat tugas, yang harus dikerjakan. Panggilan untuk membangun tubuh Kristus itu sendiri (Lih. Ef. 4: 1-13).

Untuk mewujudkan tugas itu, Allah di dalam Kristus mengangkat nabi-nabi, rasul-rasul, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar. Ia mengangkat pekerja, pelayan, dan memberikan tugas-jabatan. Alllah juga memberikan rupa-rupa karunia bagi seluruh umat, tidak terkecuali. Kepada masing-masing diberikan talenta. Apa tujuannya? Membangun tubuh Kristus! Inilah tugas panggilan Allah bagi orang yang mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Kepala Gereja. Semua orang percaya, tidak terkecuali dipanggil untuk tugas ini, baik yang rumahnya dekat atau pun yang jauh, yang kaya atau pun yang miskin secara ekonomi; yang berprofesi sebagai karyawan swasta atau pegawai negeri, pengusaha atau pembantu rumah tangga, dokter atau suster, apa pun profesinya, semua yang mengaku sebagai orang percaya memiliki tugas panggilan untuk membangun tubuh Kristus, gereja Tuhan, “sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”

Itulah das sollen, apa yang seharusnya ada dari entitas yang bernama gereja. Maka, tugas kita sekarang adalah melangkah dari das sein menuju das sollen. Dari das sein ke das sollen.  Ah, kata-katanya susah untuk diingat! Bagaimana kalau kita ganti saja, dari Tanah Tinggi menuju Muenchen. Jerman juga khan? Biar sekalian bisa nonton anak-anak Pep Guardiola main bola.

admin Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *