Genggam Panasnya, Bukan Abunya

 

Tanggal 25 Desember sudah terlewat. Namun, semarak dan sensasi Natal masih terasa hangat.

Tentu, masih akan ada perayaan-perayaan Natal hingga di bulan Januari 2018, baik yang dilakukan oleh persekutuan, gereja, atau pun lembaga-lembaga Kristen.

Kita bersyukur, penyelenggaraan Natal tanggal 24 dan 25 Desember dapat berlangsung dengan baik dan aman. Kita berterimakasih atas pengertian dan kerjasama yang baik dari pemerintah, kepolisian dan masyarakat Indonesia, sehingga Natal dapat terselenggara di berbagai tempat di Indonesia dengan relatif lancar dan damai.

Kita pun berharap kiranya perayaan tutup tahun 2017 dan sambut tahun baru 2018 dapat berlangsung dengan aman dan damai juga melalui kerjasama dan saling pengertian dari berbagai kalangan.

Indonesia adalah bangsa yang besar. Dahulu pun kita dikenal sebagai “surganya agama-agama”, sebab umat beragama dapat hidup dengan rukun dan damai, kendati di sini terdapat banyak agama, termasuk agama-agama suku. Dapatlah kita katakan bahwa dahulu tidak ada gangguan-gangguan yang berarti dalam kaitan dengan toleransi umat beragama. Sayangnya, dalam beberapa waktu belakangan ini, kita dikenal luas di luar sana sebagai negara yang tidak atau kurang toleran. Pasalnya, banyak konflik bernuansa SARA yang terus terjadi dalam tahun-tahun terakhir ini.

Praktik politisasi agama dan agamanisasi politik terus mencuat di Era Reformasi. Pilkada DKI yang belum lama lewat menyuguhkan sebuah praktik politik SARA yang jauh dari kata menyenangkan.

Berbagai kalangan menilai bahwa praktik semacam itu masih akan terus berlangsung mengingat akan diselenggarakannya Pilkada 2018 dan Pemilu di 2019.

Sementara kita sibuk menghadirkan simbol dan jargon-jargon agama dalam pertarungan politik, kita pun bisa melihat segregasi masyarakat terus terjadi, dan hal ini akan mengancam persatuan nasional. Dan, kita pun lupa, bahwa masih banyak warga negara kita yang hidup dengan kekurangan sandang, pangan, dan papan. Masih banyak tempat yang belum dialiri listrik. Bahkan, masih banyak orang yang tidak nemiliki akses pada pendidikan. Kita lupa bahwa pertaruhan kita yang sesungguhnya bukanlah mengagamakan politik, atau mempolitisasi agama, melainkan memanusiakan manusia.

Natal yang kita rayakan kembali di tahun ini sesungguhnya mengingatkan kita pada aktivitas Allah yang menjadi manusia supaya manusia semakin manusiawi. Allah ingin membangun dunia yang aman dan nyaman untuk ditinggali oleh seluruh makhluk ciptaan-Nya. Karena itu, Ia turun ke dunia, dan mengambil rupa seorang manusia, serta berdiam di antara kita.

Melalui Natalitas, Allah menginterupsi praktik politisasi agama dan agamanisasi politik yang berujung pada peminggiran, diskriminasi, perpecahan, bahkan kematian. Allah hendak membangun hari-hari hidup yang lebih beradab dan penuh pengharapan.

Karena itu, Natal yang kita terus rayakan ini sarat dengan pesan perdamaian dan keadilan. Tidak akan ada damai tanpa keadilan. Pun sebaliknya, tidak akan ada keadilan tanpa perdamaian. Dengan begitu, perdamaian dan keadilan sebagai aspek konstitutif dari Natal mesti mejadi habitus dan way of life. Bukan sekadar jargon yang dibunyikan dalam lagu atau dituliskan dalam spanduk-spanduk ucapan selamat Natal.

Sejatinya, mewujudkan perdamaian dan keadilan adalah spiritualitas Natal itu sendiri. Inilah panas yang mesti kita genggam dan terus kita nyalakan. Bukan hanya dalam momentum Desember atau Januari, tetapi di sepanjang hari-hari dan bulan-bulan kehidupan.

Dalam peringatan Natal tahun ini, gereja-gereja dalam naungan PGI dan KWI mengusung tema: Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu. Itu berarti, damai-Nya harus menuntun dan menentukan setia derap langkah kehidupan kita. Damai-Nya mewarnai setiap pemikiran dan aktivitas kita, baik secara personal maupun komunal. Inilah semangat yang mesti diwujud-nyatakan untuk memecah belenggu-belenggu agamanisasi politik dan politisasi agama yang terus berlangsung dalam konteks kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa. Dengan menghidupinya berarti kita sedang membawa damai itu dalam hubungan-hubungan kemanusiaan kita, yang pada akhirnya mewajibkan kita untuk peduli pada upaya-upaya memutus rantai-rantai kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.

Gereja yang merayakan Natal semestinya tampil di garda depan untuk memutus rantai-rantai diskriminasi, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Amanat ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tugas gereja dan orang-orang percaya. Karena itu, kita perlu meneruskan berita sukacita Natal itu dalam pergaulan dan hidup sehari-hari. Tanpa itu, maka kita hanya akan menggenggam abu dari peristiwa perayaan Natal, di mana Natal sekadar menjadi rutinitas seremonial, dan kita hanya sibuk menghias gedung-gedung gereja dan memasang pohon-pohon natal.

Tanpa pohon Natal dan gedung gereja kita bisa terus merayakan Natal. Namun, tanpa kepeduliaan, kasih, dan keadilan, sesungguhnya tidak ada lagi Natal. Karena itu, genggamlah panasnya (spirit) Natal, bukan abunya (sekadar pesta perayaan).

Kiranya gereja-gereja , khususnya jemaat-jemaat GKP yang ada di Klasis Jakarta, akan semakin memaknai Natal dalam aktivitas-aktivitas konkret untuk memanusiakan manusia, sehingga karya pelayanan yang kita lakukan semakin holistik, inklusif, dan memunyai dampak yang transformatif dalam lingkungan sosial di mana kita ada.

Selamat Natal 2017 dan selamat menyongsong Tahun Baru 2018.

Salam damai sejahtera.

Pdt. Hariman A. Pattianakotta
(Ketum BP Klasis GKP Wilayah Jakarta)

nk Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *