Gereja ramah Anak (2)

 

Gereja tidak berada dalam “ruang hampa”. Gereja hadir dalam kebersamaan dengan masyarakat sekitarnya dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah bangsa. Realitas masyarakat memengaruhi realitas kehidupan menggereja. Dengan demikian diharapkan apa yang dilakukan gereja berpengaruh bagi kehidupan bermasyarakat (Cahyadi 2009, 14).   Di tengah berbagai ketidak-ramahan terhadap anak, gereja perlu mengambil sikap. Gereja harus benar-benar menjalankan tugas panggilan bersama dengan semua umat, termasuk anak-anak.   Selain itu,  sebagai salah satu pemangku kepentingan untuk menciptakan Kota Layak Anak yang terus diperjuangkan oleh pemerintah, gereja juga turut bertanggung jawab untuk mewujudkan Gereja Ramah Anak. Selain terhadap anak-anak, gereja juga diminta untuk ikut memperhatikan isu-isu seputar anak yang sedang terjadi. Gereja yang hadir secara aktif menunjukkan kepedulian terhadap situasi sosial akan membawa perubahan dan pengaruh bagi anak (Moore 2008, 16).

Gereja Ramah Anak  berarti gereja yang terbuka dan menyambut kehadiran anak-anak. Menyambut anak berarti menerima anak sebagai manusia seutuhnya yang dapat berperan dalam kebersamaan; menerima keberadaan mereka apa adanya, senang, sedih, dan berbagai emosi lainnya yang mereka miliki (Mercer 2005, vi). Kehadiran anak di gereja adalah hal yang patut disyukuri karena berarti ada harapan bahwa kehidupan gereja akan berlanjut, ada generasi berikutnya. Sayang sekali jika yang seringkali terjadi adalah gereja terbuka dan menyambut anak-anak yang menurut ukuran orang dewasa adalah “anak baik-baik”, anak-anak penurut atau mudah diatur. Padahal bisa jadi mereka mengalami berbagai persoalan yang menjadi latar belakang perilaku mereka. Saat banyak pihak, baik masyarakat lingkungan rumah, sekolah bahkan keluarga menolak mereka, maka Gereja Ramah Anak terbuka dan menyambut mereka, sebagaimana Yesus menyambut, merangkul, dan memberkati anak-anak (Markus 10:13-16). Gereja Ramah Anak berarti gereja memiliki kesadaran dan pandangan bahwa anak adalah mitra yang sejajar dengan anggota komunitas lainnya untuk menyatakan kasih Allah di tengah dunia.

Gereja Ramah Anak  didasari oleh kesadaran bahwa Allah membawa perubahan bagi dunia, bagi ciptaan-Nya melalui seorang Anak, yaitu Yesus. Dengan demikian gereja harus serius untuk melibatkan anak, menjadikan anak rekan sekerja, dan membuat perubahan bersama mereka karena Allah mengikutsertakan anak-anak dalam rencana-Nya (Mercer 2005, 10). Anak-anak bukanlah alat yang dapat dipakai gereja untuk dapat menarik orangtua  mereka menjadi anggota gereja. Anak-anak juga  bukanlah komoditas dalam  pelayanan gereja, yang mendatangkan keuntungan bagi gereja tetapi mereka adalah pelaku/ subjek di gereja. Ada harapan bahwa gereja dapat menyediakan dan atau menciptakan waktu yang menyenangkan bagi anak selama mereka ada di lingkungan gereja. Namun tentu bukan saja asal senang, Ivy Beckwith mengatakan berdasarkan pengalaman bahwa pelayanan bersama anak kadang asal senang, menarik dan kreatif tetapi lupa bahwa kebersamaan dengan anak harus juga berdampak pada kehidupan spiritual anak (Beckwith 2004, 10). Beckwith melihat bahwa pelayanan untuk anak-anak di gereja telah rusak karena anak hanya dijadikan alat untuk meraih orang-orang dewasa (Beckwith 2004, 13-14). Gereja tidak boleh memanfaatkan anak-anak untuk kepentingan orang dewasa, misalkan dengan membuat sebanyak dan sebagus mungkin kegiatan untuk anak tetapi dengan motivasi untuk ‘memancing’ keaktifan orangtua mereka.

Gereja Ramah Anak  mempertimbangkan perubahan jaman yang membawa pengaruh kepada anak-anak. Di satu sisi ada radikalisme yang muncul tetapi di sisi lain, anak-anak  terbentuk untuk lebih toleran terhadap perbedaan pendapat, budaya, dan gaya hidup. Hal inilah yang seharusnya dapat mendorong orangtua dan orang dewasa lainnya untuk menggali pelayanan atau program apalagi yang dapat mendukung potensi mereka. Memang sepertinya potensi itu terlihat melalui pengalaman yang bisa saja dinilai kurang baik, misalnya karena mereka terbuka terhadap perbedaan pendapat maka mereka tidak akan terlalu mau secara otomatis diatur oleh orang-orang yang dianggap punya kuasa atas mereka, termasuk orangtua dan guru. Kecuali mereka melihat teladan yang baik melalui orangtua, guru, dan orang dewasa lainnya, maka mereka akan mendengarkan. Mereka tidak mudah percaya begitu saja kepada orang dewasa. Dengan kata lain, mereka lebih cenderung kepada experience oriented, termasuk dalam hubungan dengan kehidupan spiritual mereka. Mereka tidak hanya mau belajar tentang Allah saja melainkan juga ingin mempunyai pengalaman dengan Allah. Meskipun generasi ini sangat dekat dengan dunia maya dan teknologi namun mereka juga menginginkan hal yang misterius, yang mistis bukan sekadar hiburan. . Keluarga dan jemaat saling memengaruhi baik untuk yang positif maupun yang negatif dalam diri anak.  Seperti yang ungkapkan oleh Iris V. Cully bahwa, “Kadang-kadang orangtua gagal dalam usaha melaksanakan Pendidikan Agama Kristen di lingkungan rumah tangga, karena jemaat meniadakan usaha tersebut. Ada suasana buruk dalam hal urusan jemaat sehingga meracuni segala pelayanannya. Di dalam jemaat terdapat perpecahan, tindakan fanatis, suasana duniawi yang menghambat pelaksanaan tugas dan pandangan teologis yang kaku, bahkan mati. Jemaat tersebut tidak menyambut anak-anak dengan kasih sesuai dengan niat Kristus baginya, malahan memperlihatkan corak agama yag menghindari orang datang sehingga tidak menolong orangtua, tetapi menjadi batu sandungan yang menghalangi mereka melaksanakan tugas mendidik anak-anaknya” (Cully tt, 28).

Kesimpulannya menjadi Gereja Ramah Anak bukanlah pekerjaan mudah melainkan perjalanan panjang untuk mewujudkannya. Dengan kesadaran bahwa menjadi Gereja Ramah Anak adalah sebuah kebutuhan mendesak, diperlukan kerja keras dan kesungguhan dari semua pihak untuk bergerak bersama menuju Gereja Ramah Anak. Pihak-pihak itu adalah; Majelis Sinode, Badan-badan milik sinode, Majelis Jemaat, para orang tua, para pendamping anak, anak-anak, dan semua bagian jemaat. Kiranya dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan untuk menunaikan tugas panggilan mulia, menjaga dan bertumbuh bersama anak-anak yang Tuhan percayakan hadir di sekitar kita.

Pdt. Magyolin C. Darmawan-Tuasuun*

*Penulis adalah Pendeta di Gereja Kristen Pasundan yang saat ini melayani di Jemaat Kampung Tengah (Jakarta Timur). Tulisan ini merupakan bagian dari Tesis (Gereja Ramah Anak sebagai Model Pendidikan Kristiani yang Holistik di Gereja Kristen Pasundan) yang sudah dipertanggungjawabkan dalam Sidang Tesis di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, 17 Mei 2017.

nk Author

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *