Kepercayaan dan Tanggung-jawab

 

“Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

” (Lukas 12:48b)

Hidup adalah sebuah kepercayaan. Kepada manusia Allah percayakan berbagai mandat sesuai talenta, kapasitas, dan kesanggupan masing-masing. Talenta, kapasitas, dan kesanggupan setiap orang berbeda-beda. Perbedaan yang dikaruniakan Allah kepada setiap orang ini bukan karena Allah pilih kasih, namun karena Allah Yang Maha Tahu mengenal setiap orang. Ia tahu yang terbaik bagi setiap ciptaan-Nya. Karena itu, Allah memberi secara tepat atau sesuai kapasitas dan kesanggupan manusia.

Makin banyak diberi kepercayaan, berarti makin besar tanggung-jawab. Prinsip ini berlaku dalam berbagai aspek kehidupan. Lukas dalam bukunya mencatat prinsip tersebut supaya setiap orang percaya yang hidup di segala zaman dapat membaca dan mengingatnya: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk. 12: 48b). Oleh karena itu, setiap orang mesti bermawas diri. Allah memberikan hidup dengan segala karunia yang dimiliki, maka Allah juga yang meminta pertanggung-jawaban tiap-tiap orang.

Bila setia dan cakap mengelola hidup, rendah hati dan tekun menunaikan setiap tugas dan tanggung-jawab, maka Allah yang empunya hidup akan memberikan perkara-perkara yang lebih besar. Setia dalam perkara kecil, maka akan ditambahkan perkara yang lebih besar. Orang yang setia dan rendah hati serta bertanggung-jawab dengan hidup yang dipercayakan adalah orang-orang yang diperkenan Allah untuk memperbesar kapasitas dan kesanggupan dirinya. Allah akan memakai mereka dengan lebih baik dan dasyat untuk menyatakan kasih dan kebaikan Tuhan di tengah dunia, sebab mereka adalah orang-orang yang sudah teruji. Mereka sudah memberi bukti melalui komitmen, dedikasi, dan loyalitas mereka di tempat di mana Allah menempatkan dan memanggil mereka untuk sebuah tugas atau amanah.

Seorang karyawan biasa yang setia dan tekun menjalankan tugasnya, niscaya akan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar dari atasannya. Tidak mustahil baginya untuk meraih jabatan yang lebih tinggi seperti superviser atau manager, asalkan ia setia dan bertanggung-jawab dengan setiap detil tugas yang diberikan. Bila tidak setia dan bertanggung-jawab berarti kita sedang mempantaskan diri kita untuk tidak mendapat sesuatu yang lebih besar dan lebih tinggi. Bahkan, bukan hal yang mustahil bahwa apa yang sekarang ini sudah kita miliki akan ditarik atau diambil dari kita. Inilah yang disebut Lukas sebagai pukulan (Lih. 12:48a). Siapa yang memukul, Tuhan? Tidak! Kita sendiri yang memukul diri kita, dan Tuhan mengijinkan pukulan itu untuk kita alami supaya kita bisa merasakan bahwa hidup ini akan sangat berat dan teramat menyakitkan bila kita tidak memperoleh kepercayaan. Sekaligus kita diajar untuk menghargai setiap kepercayaan yang diberikan, sekecil apa pun kepercayaan itu.

Hidup ini adalah sebuah kepercayaan. Allah sendiri yang memberi hidup. Ia yang mengaruniakan semua talenta, harta, jabatan, dan apa pun yang dimiliki manusia. Allah memberikan itu semua bukan supaya manusia bermegah dan menyombongkan diri di atas orang lain, melainkan agar Allah dimuliakan melalui tindakan manusia yang memfungsikan hidup dan karunia yang ia miliki untuk melayani sesama. Adalah sebuah tindakan bodoh bila kita mengumpulkan harta di dunia dan bermegah dengan barang-barang yang sifatnya fana (Lih. Luk.12:13-20). Harta, takhta atau jabatan tidak di bawa ke keabadian. Semua kemegahan duniawi itu akan ditinggalkan ketika manusia dipanggil menghadap sang Pencipta. Hanya kasih yang tinggal abadi. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yakni iman, pengharapan, dan kasih. Dan yang lebih besar dari semua itu adalah kasih. Hidup dengan berbagai “fasilitas” yang dititipkan Tuhan kepada manusia selama di dunia bertujuan supaya manusia dapat melayani dengan kasih, karena kebajikan itulah yang dibawa sampai mati.

Melayani berarti menjadikan diri berguna bagi orang lain. Godaan terbesar manusia dalam melayani adalah hasrat individual yang membuat dia menjadi egois. Hanya berpikir dan bertindak untuk diri sendiri. Orang lain dijadikan sekadar sebagai objek atau pelengkap penderita untuk kesenangannya. Lama-kelamaan bukan hanya sesama yang tidak dipedulikan, tetapi Tuhan pun tidak dipandang. Segala sukses hidup yang telah diraih dinilai sebagai buah kerja kerasnya semata, sehingga ia menyombongkan diri dengan semua itu. Lantas, hidupnya menjadi terikat dengan benda-benda yang dikumpulkannya, bukan lagi terikat dan melekat pada Tuhan. Persis seperti yang dikatakan oleh Alkitab, di mana harta mu berada di situ hatimu berada. Karena ia sudah tergantung pada mamon, maka hidupnya akan selalu diisi dengan kecurigaan, kecemasan, dan ketakutan. Ia cemas dan takut kalau-kalau semua kebanggaannya ini akan berkurang, hilang atau diambil orang, sehingga ia selalu berupaya sekeras-kerasnya untuk mengamankan dan melipat-gandakan apa yang ia miliki tanpa peduli dengan orang lain dan tanpa mengindahkan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Hidup yang seperti ini bukan hidup yang diridohi oleh Allah. Yang Kuasa justru menghendaki supaya kita melayani Ia dan sesama dengan hidup dan segala kasih karunia yang kita miliki dari Dia.

Bukan soal besar atau kecilnya peran kita. Bukan soal tinggi atau rendahnya posisi kita dalam sebuah struktur pekerjaan atau pelayanan. Tetapi seberapa besar motivasi kita untuk menyelesaikan setiap amanat yang dipercayakan. Kita perlu cinta yang besar, kesetiaan yang penuh, ketekunan dan tanggung-jawab yang tinggi dalam menunaikan setiap tugas, supaya kapasitas kita diperbesar, dan Allah akan mempercayakan tanggung-jawab yang lebih besar kepada kita. Amin.

admin Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *