Masa Pra-Paskah, Masa Merayakan Anugerah Allah

Minggu  (25/2), Gereja merayakan minggu ke-5 sebelum Paskah atau disebut Minggu Reminiscere. Masa Pra –Paskah sendiri sudah dimulai tepatnya pada Rabu Abu (14/2) dan dilanjutkan dengan Minggu ke-6 sebelum Paskah yang disebut dengan Minggu Invocabit (17/2).  Gereja Kristen Pasundan (GKP) sendiri telah menempatkan masa Pra-Paskah dalam Daftar Pembacaan Alkitab (DPA) tahun 2018 dan telah menggunakan tata kebaktian yang untuk tahun 2018 ini menggunakan istilah Pra-Paskah.  Sejumlah jemaat di lingkungan GKP wilayah Jakarta sudah melaksanakan ibadah rabu pada 14 februari lalu. Sejumlah jemaat itu antara lain; GKP Cawang, GKP Tanah Tinggi , GKP Bekasi, GKP Kampung Sawah dan GKP Awiligar

Masa Pra-Paskah merupakan 40 hari masa untuk puasa dan pantang. Sementara, di rentang waktu menuju Paskah terdapat  6 hari minggu, dimana ini dimaknai “paskah kecil”. Sehingga, di hari tersebut, umat tidak berpantang atau berpuasa.  Masa Pra-Paskah yang dimulai selama Rabu Abu dan  berlangsung selama 6 minggu ini merupakan warisan gereja semesta, yang tumbuh dan berkembang utamanya di  gereja barat (Katolik  Roma). Sementara, gereja timur tidak mengenal tradisi rabu abu dan memulai masa pra-Paskah mereka pada hari Senin (Clean Monday).

Pada waktu reformasi berkembang di Barat dan melahirkan gereja Protestan (utamanya denominasi Lutheran yang berawal di Jerman dan denominasi Calvinis yang berawal di Jenewa), berbagai ritus gereja barat mulai ditinggalkan oleh gereja Protestan. Perkembangan pemaknaan tradisi  gereja (termasuk soal masa Pra-Paskah) oleh berbagai denominasi gereja Protestan yang berkembang di Eropa, kemudian menghadirkan banyak perbedaan antara gereja Protestan dengan gereja Katolik Roma

Perbedaan-perbedaan yang ada dalam memaknai tradisi gereja (termasuk soal hari raya gerejawi dan  liturgi)  juga sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor politis, termasuk diantaranya  soal perang 30 tahun antara Protestan dan Katolik di Eropa. Di masa itu, gereja Katolik melancarkan kontra-reformasi. Pada masa itu pula, berbagai perbedaan semakin nampak dan diferensiasi Protestan dengan Katolik semakin jelas. Bahkan, di saat konflik meruncing, muncul gerakan iconolasm atau penghancuran ikon-ikon gereja Katolik berupa patung-patung dan juga gambar-gambar di berbagai gereja Katolik. Di Jenewa, muncul gerakan white-washed  yang membersihkan  gedung gereja dari patung, lukisan atau ikon lainnya.

Seorang doktor sejarah gereja dari Duke University, Jennifer Lynn Woodruff Tait, mengatakan, tradisi gereja terkait masa Pra-Paskah, termasuk praktik Rabu Abu di dalamnya, padam  selama masa reformasi. Gereja-gereja reformasi, kemudian “menekan” tahun gereja pada umumnya karena keinginan untuk tidak melihat suatu hari lebih suci dari yang lain. Ini juga terkait kekhawatiran bahwa orang-orang pada umumnya menandai hari raya dengan terlalu banyak perayaan  dan hal itu terkait kesia-siaan. Woodruff juga menyebutkan, Gereja reformasi beraliran Lutheran dan Anglikan sebenarnya tetap mempertahankan pelayanan Pra-Paskah, meskipun mereka kerap menghilangkan pengenaan abu dan dorongan untuk berpuasa.

Setelah ratusan tahun berlalu, konflik antara Gereja Katolik Roma dengan kalangan Protestan dapat dikatakan sudah mereda. Munculnya gerakan ekumenis, yang melibatkan dialog berbagai denominasi gereja  Protestan dengan  Katolik membuat kekristenan mulai mengarah pada upaya-upaya kerjasama untuk menjadi dunia sebagai “rumah bersama” yang lebih baik dan bersama menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di dalam dunia .

Meredanya konflik dan merebaknya semangat ekumenis ternyata berpengaruh juga pada pemaknaan liturgi gereja Protestan arus utama. Gereja-gereja Protestan arus utama (khususnya di Amerika Serikat) mulai kembali menemukan ulang (rediscovery) dan pembaruan makna (renewal of interpretation) terhadap tradisi gereja, khususnya dalam hal hari raya gerejawi dan praktik liturgi.

Menurut catatan Woodruff, perayaan Rabu Abu di era modern erat kaitannya dengan Konsili Vatikan II, dimana ketika itu, kedua belah pihak, Katolik Roma dan Protestan mulai menaruh minat yang jauh lebih besar terhadap tradisi liturgi satu sama lain. Kedua belah pihak juga menyadari perlunya tindakan untuk menyampaikan Injil kepada panca indera (sentuhan, penglihatan) seperti halnya kata-kata yang berbicara dan diserap pemikiran (otak).

Dalam konteks sejarah gereja Protestan, Eric Constanzo,  seorang doktor sejarah gereja dari Southwestren Seminary, menyebutkan catatan menarik tentang bagaimana kecenderungan kalangan Protestan menyikapi pemaknaan atas tradisi gereja. Secara kritis, Constanzo hendak menegaskan, terlalu banyak  dari kalangan Protestan  yang begitu cepat mengabaikan sebagian sejarah gereja  bahwa, dimana pada masa lalu, tradisi gereja begitu penuh dengan kehidupan, tujuan, dan makna.  Constanzo menegaskan, terkadang umat  perlu diingatkan bahwa Gereja ada selama satu setengah milenium sebelum Reformasi Protestan, dimana orang-orang Kristen mula-mula memiliki beberapa bentuk ibadah yang berarti yang perlu diingat dan pada waktu-waktu tertentu, baik juga untuk dipraktekan.

Berbicara tentang praktek Rabu Abu, Mark D. Roberts, seorang teolog lulusan Harvard yang kini  mengajar  di Fuller Seminary, memberikan catatan penting tentang latar belakang soal momen pembuka masa Pra-Paskah itu. Menurut Roberts, sekitar abad kesepuluh, dapat dikatakan, semua orang percaya atau umat Kristiani (khususnya di Barat) mulai menandakan kebutuhan mereka akan pertobatan dengan memiliki abu yang diletakkan di dahi mereka dalam bentuk salib. Namun, Roberts menggarisbawahi bahwa tanda keberdosaan tersebut, sejatinya  mengisyaratkan kabar baik yang harus datang melalui bentuknya (salib). Rabu Abu bukanlah hari suci (holy day) yang muram dan sedih, karena sebenarnya momen ini secara simbolis mengantisipasi hari Jumat Agung  (Good Friday) dan Minggu Paskah.

Dari perspektifnya sebagai seorang Protestan, Roberts–yang juga pernah menjadi pendeta selama 16 tahun di sebuah gereja Presbyterian-menjelaskan, Rabu Abu sebagai permulaan masa Pra-Paskah adalah kesempatan bagi kita semua untuk secara terbuka mengakui kelemahan dan keberdosaan kita. Di dunia yang sering mengharapkan kita untuk menjadi sempurna, Rabu Abu memberi kita kesempatan utuh dalam mengakui ketidaksempurnaan kita sebagai manusia fana. Kita bisa menanggalkan kepura-puraan kita dan bersikap jujur ​​satu sama lain tentang siapa diri kita. Kita semua menanggung tanda dosa, dari kanak-kanak sampai lanjut usia. Kita semua berdosa di hadapan Tuhan yang kudus. Kita semua fana dan suatu hari nanti akan mengalami kematian jasmani. Dengan demikian, kita semua membutuhkan Juruselamat.

Berangkat dari pemaknaan itulah, Roberts menjelaskan, lebih lanjut bahwa yang memungkinkan kita untuk menatap maut di wajah adalah jaminan hidup, kehidupan nyata, hidup yang kekal. Bila kita tahu hidup kita aman di tangan Tuhan, dan bahwa kehidupan fisik ini hanyalah permulaan kekekalan, maka kita bebas untuk jujur ​​mengenai apa yang ada di depan kita. Kita bisa menghadapi kematian tanpa rasa takut atau berpura-pura, karena kita mengenal Dia, Kristus Tuhan, yang mengalahkan kematian. Di sinilah, momen Rabu Abu memiliki tempat penting untuk menyadarkan kembali arti kepercayaan kepada Kristus.

Lebih jauh, Roberts juga menjelaskan soa Pra-Paskah dalam  praktik umat gereja semesta. Menurut Roberts, Pra-Paskah adalah masa bagi orang-orang yang baru bertobat untuk mempersiapkan diri menerima baptisan dan bagi orang-orang percaya yang  terjatuh dalam dosa untuk memusatkan perhatian pada pertobatan. Di masa dahulu saat gereja Semesta mulai berkembang (khususnya di Barat), semua orang Kristen datang untuk melihat Masa Pra-Paskah sebagai masa mengingat dan melakukan pertobatan serta  mempersiapkan diri  secara rohani untuk perayaan Paskah. Inilah yang menjadi masa Pra-Paskah sebagai masa yang istimewa dan memiliki tempat yang sangat berharga dalam perjalanan kehidupan gereja .

Beranjak dari  kesadaran historis tersebut, Roberts menyajikan pembaruan interpretasi masa Pra-Paskah dari perspektifnya sebagai seorang teolog Protestan. Roberts menjelaskan, masa Pra Paskah sebagai masa untuk bertumbuh lebih dalam lagi dalam anugerah Tuhan. Dalam pandangan personal Roberts, secara pribadi, ia menemukan dirinya lebih siap untuk merenungkan kedalaman pengorbanan Kristus di hari Jumat Agung dan untuk merayakan kemenangannya atas dosa dan kematian pada hari Paskah.  Melalui rangkaian aktivitas persiapan menuju Paskah, Roberts menekankan bagaimana disiplin rohani  yang diterapkan (puasa pantang serta bertekun dalam doa dan pembacaan kitab suci), menjadi sarana menolong umat untuk mengalami dan menghayati anugerah Allah.

Dari penjelasan Roberts ini dapat dipahami, ketika seorang Kristen menambah aktivitas (misalnya melakukan Pemahaman Alkitab mingguan secara kontinyu, aksi berbagi kasih kepada mereka yang membutuhkan) dan/atau mengurangi (dengan puasa atau pantang) selama masa Pra-Paskah, disitulah letak dimana umat yang bertobat dapat sungguh-sungguh menghayati sekaligus merespons betapa besar anugerah Allah yang telah diberikan kepada mereka.

Meletakkan masa Pra-Paskah pada perspektif anugerah, menjadi penting dalam pandangan Protestan. Masa Pra-Paskah dengan demikian dimaknai sebagai masa merayakan anugerah Allah. Masa Pra-Paskah, dengan demikian menjadi  “teater kemuliaan Allah” yang menegaskan dengan jelas kepada dunia bahwa, “Anugerah Allah yang diberikan kepada orang percaya yang bertobat, jelas lebih besar dari pada semua dosa kita”.

Masa Pra-Paskah dengan demikian, bukanlah masa tenggelam dalam penyesalan, bukan pula masa berusaha melakukan upaya tambahan atau tindakan pengurangan untuk mendapatkan anugerah  itu Masa Pra-Paskah adalah masa dimana pertobatan sebagai anugerah semakin dihayati dan dialami bahkan itu mewujudnyata dalam tindakan bermakna bagi sesama. Sehubungan dengan itu, dalam perspektif  Protestan, dapat dimaknai Masa Pra-Paskah selama 6 minggu itu adalah masa perayaan anugerah  (Celebration of Grace)

Dalam konteks kehidupan Klasis  GKP Wilayah Jakarta, ada hal yang cukup menarik dan relevan dengan pemaknaan masa Pra-Paskah tahun ini.  Sabtu (23/2) lalu atau sehari sebelum Minggu Reminiscere, Komisi Pemuda Remaja Klasis (Kopersis) GKP Wilayah Jakarta melakukan kunjungan kasih ke yayasan dwituna Rawinala. Kegiatan yang dilangsungkan masa Pra-Paskah ini menjadi momen yang sangat berharga dan menegaskan bahwa kasih yang sejati haruslah nyata dalam tindakan dan karena tindakan itu sudah diteladankan oleh Yesus Kristus, yang mati dan bangkit mengalahkan maut.

Belajar dari kegiatan ini, bentuk-bentuk kegiatan dalam mengisi masa Pra-Paskah tentunya dapat diprogramkan lebih baik lagi di waktu mendatang, sehingga masa Pra-Paskah di lingkungan GKP, khususnya di klasis wilayah Jakarta semakin bermakna.  Seiring dengan itu,  penajaman pemahaman  masa Pra-Paskah sebagai celebration of grace juga perlu ditumbuhkembangan.  Sebagai bagian dari  gereja reformasi , GKP  jelas perlu menemukan kembali (rediscovery)  dan memberi makna baru atau renewal of interpretation pada tradisi gereja mula-mula  dalam perspektif anugerah sebagai salah satu core pengajaran reformasi. Itu semua tentu tidak lepas dari kesadaran untuk terus menerus bertumbuh dalam anugerah Allah  yang membarui hidup dan memberikan kehidupan kekal.

 

Adhianto B.Prasetyo

BP Klasis Wilayah Jakarta

 

Referensi

Eric Costanzo, Ash Wednesday and Lent – An evangelical perspective,  diakses dari https://ericcostanzo.me/2013/02/13/ash-wednesday-and-lent-a-simple-brief-evangelical-perspective/

Mark D. Roberts, Ash Wednesday: Practice and Meaning, diakses dari http://www.patheos.com/blogs/markdroberts/series/ash-wednesday-practice-and-meaning/

 

Mark D.Roberts,  How Lent Can Make a Difference in Your Relationship with God diakses dari

http://www.patheos.com/blogs/markdroberts/series/how-lent-can-make-a-difference-in-your-relationship-with-god/

 

Jennifer Woodruff Tait, Ashes to Ashes, diakses dari :  http://www.christianitytoday.com/history/2010/february/ashes-to-ashes.html

nk Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *