Renungan : Maaf, Aku Sibuk…!

 

“Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang

 yang diundang itu akan menikmati jamuan-Ku ”

(Lukas 14:24)

 

Maaf, aku sibuk. Atau, maaf, aku tidak sempat karena tidak cukup waktu. Inilah dalih yang sering diberikan untuk menolak sebuah undangan. Terdapat banyak sekali undangan dalam kehidupan kita. Bahkan, ada beberapa undangan yang meminta kehadiran kita dalam waktu yang bersamaan. Karenanya, kita mesti memilah dan memilih, mana undangan yang harus dihadiri, dan mana yang tak sempat kita datangi. Untuk undangan yang tidak bisa dipenuhi, kita hanya dapat berkata: “Terimakasih atas undangannya, tetapi maaf, saya atau kami tidak bisa menghadirinya.”

Sebelum memutuskan untuk menghadiri atau tidak sebuah undangan, kita biasanya memiliki pertimbangan. Misalnya, faktor kedekatan. Seberapa dekat relasi kita dengan pihak yang mengundang? Makin dekat relasi kita dengan pihak pengundang, maka peluang untuk menghadirinya pun semakin tinggi. Kedua, faktor keuntungan. Apakah dengan menghadiri undangan itu saya akan mendapatkan keuntungan tertentu? Bila pemimpin kita di perusahaan yang mengundang kita, maka besar kemungkinan kita akan datang, dengan harapan agar relasi kita dengan sang atasan bisa lebih dekat, sehingga “proyek” tertentu bisa dilimpahkan kepada kita. Ketiga, faktor status sosial. Apakah menghadiri undangan ini/itu cukup bergengsi? Semakin tinggi status sosial pengundang, maka biasanya orang lebih cenderung untuk memenuhi undangan tersebut sebab dipandang sebagai sebuah kehormatan. Faktor penting lainnya yang biasanya turut kita pertimbangkan adalah urusan pribadi kita sendiri; apakah urusan pribadi kita bisa ditinggalkan ataukah tidak untuk sementara waktu guna menghadiri undangan?

Itulah pertimbangan-pertimbangan logis-manusiawi. Pertimbangan-pertimbangan tersebut antara lain didasarkan pada skala prioritas yang dibuat sesuai dengan tujuan dan cita-cita yang sudah dicanangkan. Bila sebuah undangan turut menunjang sebuah prioritas atau menjadi salah satu prioritas itu sendiri, maka undangan tersebut akan sangat diperhitungkan dan kita sudah pasti akan memenuhinya. Berkaitan dengan undangan dan skala prioritas ini, sebuah pertanyaan reflektif yang barangkali penting untuk direnungkan adalah di mana tempat Tuhan dalam skala prioritas yang kita buat? Apakah Tuhan dan pekerjaan-Nya turut menjadi  prioritas kita? Apakah undangan Tuhan juga mendapatkan tempat istimewa, atau lebih sering kita acuhkan karena undangan dari pihak lain yang lebih menarik bagi kita?

Dalam Injil Lukas, sang penulis menyajikan sebuah ilustrasi yang menyingkapkan fakta kehidupan di mana orang dapat menolak undangan Tuhan karena urusan dunia dan pribadi yang dipandang lebih penting dari pada undangan Tuhan (Lih. Luk.14:15-24) . Ada yang tidak bisa datang karena baru membeli ladang. Yang lain tidak bisa hadir karena baru saja membeli lembu. Ladang dan lembu mempunyai nilai ekonomis. Adalah jauh lebih menarik dan menguntungkan melihat ladang dan lembu ketimbang menghadiri jamuan makan Tuhan. Apalagi, jamuan makan itu turut dihadiri oleh orang-orang miskin, para janda dan duda; mereka yang berasal dari kalangan ekonomi bawah (Lih. Luk. 14:12-14). Datang ke jamuan makan tersebut berarti ikut membebani diri untuk berbagi dengan mereka yang miskin dan lemah; sesuatu yang bukannya memberi keuntungan, malahan kerugian. Ada juga yang tidak bisa hadir karena baru saja menikah. Artinya, keluarga barunya menjadi alasan ia tidak mengambil bagian dalam jamuan Tuhan. Ia dan istrinya lupa bahwa justru keluarga (yang baru) perlu dibangun dalam relasi dan kedekatan dengan Tuhan selaku sang kepala keluarga dan pohon berkat bagi setiap rumah tangga.

Ilustrasi yang disampaikan sang penulis Injil Lukas itu masih tetap relevan untuk kehidupan kita dewasa ini, khususnya sebagai orang percaya dan keluarga Kristen. Ada banyak kata maaf yang diberikan ketika sebuah undangan pelayanan disodorkan kepada kita. Maaf, saya tidak bisa karena pekerjaan. Maaf, saya tidak bisa sebab tidak punya waktu dan tidak punya kemampuan. Maaf, saya tidak bisa karena keluarga tidak “mendukung”, anak-anak masih kecil, mereka membutuhkan lebih banyak waktu, dll. Semua alasan yang diberikan itu barangkali benar, sesuai dengan fakta yang apa adanya. Akan tetapi, mengapa fakta-fakta itu memberatkan kita untuk mengambil bagian dalam jamuan Tuhan? Apakah mungkin karena melayani Tuhan atau mengambil bagian dalam jamuan Tuhan dirasakan sebagai sesuatu yang membebani? Apakah karena ada pengorbanan yang diberikan (Lih. Luk. 14:25-27), sehingga perihal melayani Tuhan menjadi berat untuk dijalankan oleh kita? Apakah karena tidak ada profit atau keuntungan sehingga undangan melayani Tuhan kalah bersaing dengan undangan-undangan lain?

Coba kita membayangkan hal ini: Suatu ketika, di saat kita membutuhkan pertolongan Tuhan, kita datang dan meminta bantuan-Nya, lalu Tuhan berkata kepada kita: “Maaf, Aku lagi sibuk, Aku tidak bisa…”  Uupppss! Jangan pernah kita mengira bahwa tidak mungkin kata-kata seperti ini akan keluar dari bibir Tuhan. Lukas sendiri mencatat apa yang dikatakan oleh Yesus: “Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” Bagaimana respon dan refleksi kita atas perkataan Yesus itu? Masihkah kita akan berkata, “Maaf, aku sibuk…,” ketika kita diundang oleh Dia untuk masuk dalam jamuan atau pelayanan-Nya?

admin Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *