Menuju Gereja Ramah Anak (1)

“Ma, apakah kita aman tinggal tinggal di Indonesia?”, pertanyaan itu meluncur dari putra kami (12 tahun) setelah ia menyaksikan berita tentang persekusi yang diterima oleh M, seorang anak yang usianya tidak terpaut jauh dari usia putra kami,  yang diburu dan mendapatkan kekerasan verbal, fisik, dan mental oleh sekelompok orang karena status yang ditulisnya di salah satu media sosial. Rupanya sebelum itu putra kami juga menyaksikan bagaimana seseorang mengumbar ujaran kebencian disertai ancaman terhadap para pendeta dan keluarga, dan hal itu membuatnya gelisah.  Anak-anak sedang berada dalam situasi yang sangat tidak ramah terhadap mereka. Mereka selalu menjadi korban atas berbagai situasi buruk yang terjadi di sekitar mereka. Berbagai peristiwa yang sedang terjadi dan pemberitaan oleh berbagai media yang demikian vulgarnya membuat anak-anak mengalami trauma sekunder dan yang lebih memprihatinkan ketika mereka sendiri yang langsung mengalami berbagai bentuk kekerasan itu. Berikut ini berbagai persoalan yang ada di sekitar anak; persekusi, perundungan / bullying, kekerasan seksual, penjualan anak, vaksin palsu, narkotika, paham radikal, dan lain sebagainya.

Dalam laporan sebuah lembaga yang berdedikasi menghentikan perdagangan seks anak, pornografi, dan prostitusi anak, pariwisata seks dan perkawinan anak (End Child Prostitution Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purpose/ ECPAT), yang disampaikan saat Konsultasi Anak Nasional Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia pada Februari 2017, menyebutkan bahwa erat kaitannya antara pornografi, narkoba, dan gawai. Tiga puluh lima persen data yang diunduh anak-anak berhubungan dengan konten pornografi, 81% anak menikmati  pornografi di rumah karena bebasnya akses internet dan berbekal gawai atau perangkat komputer yang ironisnya disediakan orangtua (Sofian 2017, 3).

Selanjutnya Sofian memaparkan bagaimana metode yang digunakan oleh pelaku kekerasan seksual terhadap anak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Saat ini  metode groming internet sedang trend. Orang dewasa memanfaatkan fasilitas internet dan smartphone untuk melakukan percakapan dengan anak-anak. Mereka bertemu di media sosial, melakukan hubungan virtual dan dilanjutkan dengan pertemuan. Beberapa sinode yang menghadiri Konas Anak PGI tersebut menyampaikan pengalaman pahit bahwa diketahui anak-anak di gereja pun telah terpapar hal ini. Artinya, hal ini bukan terjadi di luar atau jauh dari gereja tetapi sudah terjadi di dalam gereja, dekat dengan kita.

Selanjutnya : Gereja Ramah Anak (2)

 

 

 

nk Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *