Rasanya Aneh, Tetapi Itulah Kebenaran!

 

Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu,

berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu

(Lukas 6: 27)

 

Bila Anda pertama kali memakan sesuatu yang sebelumnya tak pernah Anda makan, makanan tersebut barangkali akan terasa aneh di lidah Anda. Tetapi bila Anda sudah mencicipinya beberapa kali, maka lama kelamaan rasa itu akan akrap di lidah Anda. Malah, bisa terjadi, makanan itu kemudian menjadi salah satu menu favorit Anda.

Bila pertama kali Anda membaca atau mendengar ajaran Yesus, hal yang sama mungkin akan terjadi. Anda barangkali akan merasa bahwa ajaran Yesus itu aneh. Sebab, ajarannya berbeda sekali dengan apa yang umumnya orang ingin dengarkan. Misalnya, bila orang pada umumnya mengidolakan kekayaaan, dalam salah satu wisdom-Nya Yesus justru berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk.6: 20). Sedangkan untuk orang-orang yang berharta, Yesus bersabda: “Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah beroleh penghiburan” (Luk. 6:24).

Mengapa Yesus memberikan pengajaran yang demikian? Bukankah orang miskin juga ingin kaya, sedangkan orang kaya dan orang pada umumnya tidak ingin hidup miskin? Apakah ini berarti Yesus tidak suka pada orang kaya dan hanya menyukai orang miskin?

Yesus bukan sosok yang diskriminatif. Karena itu, tidaklah mungkin Ia membedakan orang menurut kepemilikan harta. Baik orang yang berpunya maupun orang yang berkekurangan, semuanya dicintai oleh Yesus Kristus. Akan tetapi, mengapa dari mulut-Nya terlontar kata-kata seperti itu? Yesus mengemukakan ajaran tersebut karena pada masa itu terdapat banyak orang kaya yang hanya peduli dengan harta kekayaannya. Mereka ini tidak peduli dengan sesamanya yang miskin.Orang miskin berada dalam kemelaratan sedangkan orang kaya hidup dalam kelimpahan. Kondisi yang pincang itulah yang mendorong Yesus untuk memberitakan kabar baik, dan pertama-tama kabar baik itu diperuntukan bagi mereka yang lemah dan benar-benar membutuhkan. Siapa orang yang lemah itu? Mereka adalah orang-orang miskin. Orang miskin adalah orang yang berkekurangan secara materi, tetapi dalam kekurangan itu, dengan rendah hati mereka mau berserah dan bersandar kepada Allah. Menarik, kata yang menunjuk kepada orang miskin dalam Alkitab juga diartikan sebagai orang-orang yang rendah hati.

Kalau begitu, bagaimana dengan orang miskin yang tinggi hati atau sombong? Apakah ada orang miskin yang tinggi hati? Oh, jelas ada! Mereka minder dengan keberadaannya yang miskin dan karena itu mereka kemudian membentengi diri. Mereka ini sama saja dengan orang kaya yang sombong. Mereka sama-sama tertutup. Bedanya, yang satu sombong dalam kelimpahan kekayaan, dan yang satu sombong dalam kemelaratan. Jika diminta untuk memilih, mana yang akan Anda ambil?

Kalau boleh saya menebak, pasti Anda akan memilih untuk menjadi orang kaya yang sombong. Ia kan? Tetapi apalah artinya kekayaan kalau kita tidak mendapat Kerajaan Allah? Hal ini sama menyedihkan dengan orang miskin yang melarat, yang juga tidak merasakan suasana Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah merupakan inti pemberitaan Yesus. Yesus hidup dan mengajar untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu bahkan dipenuhi secara utuh dalam hidup dan karya Kristus. Hidup dalam Kerajaan Allah berarti hidup menurut apa yang telah Yesus ajarkan dan lakukan. Hidup menurut teladan Yesus Kristus yang akan memberikan kebahagiaan sejati, yang bernilai kekal, tahan lama serta tidak digerus oleh waktu, dan tidak ditentukan oleh faktor-faktor yang fana seperti materi. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki materi. Bukan karena itu lalu kita sebagai orang percaya tidak boleh kaya. Yang tidak boleh itu kita menjadi orang-orang sombong yang hidup hanya untuk diri sendiri dan merasa seakan-akan tidak membutuhkan orang lain serta tidak membutuhkan Tuhan lagi.

Dalam rasa bergantung kepada Allah dan dalam persekutuan dengan-Nya, orang-orang percaya dipanggil untuk hidup dalam belarasa dengan sesama. Mereka diajak untuk menghidupi kasih itu secara nyata, bahkan ketika kita berada dalam kondisi-kondisi yang ekstrem, yang menantang kita untuk sungguh-sungguh hidup sebagai orang yang percaya. Misalnya, ketika kita dimusuhi, tidak disukai, bahkan diperlakukan dengan tidak manusiawi. Dalam kondisi yang demikian, kita tentu boleh dan harus memperjuangkan hak kita untuk hidup dalam persekutuan secara manusiawi dengan orang lain. Akan tetapi, dalam perjuangan itu, kita harus tetap mengenakan kasih. Karena itulah Yesus mengajarkan hal yang mungkin terasa aneh bagi orang yang baru mendengarnya. “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.” (Lukas 6: 27). Aneh ya? Tetapi, itulah kebenaran. Hanya kasih yang mampu membawa sukacita abadi. Semoga firman ini akan menjadi “menu” favorit kita. Amin!

admin Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *