Tiga Tahun Bersama Sahabat

Bermula dari Kegelisaan dan Harapan

Menata dan membangun kehidupan iman di tengah kenyataan yang sarat dengan berbagai persoalan bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan upaya dan cara pandang yang utuh dan menyeluruh yang diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk pembinaan yang dikerjakan secara berkelanjutan. Pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan tentu harus dibangun di atas dasar yang teguh. Dalam iman Kristen, dasar yang teguh itu kita temukan di dalam Yesus Kristus yang firman dan kehidupan-Nya tersedia di dalam Alkitab. Jadi, menemukan dan mengenali Yesus Kristus sebagai wujud penyata Allah salah satuya terjadi melalui pembacaan dan perenungan Alkitab. Dalam surat Roma, Paulus mengatakan bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10: 17).

Dalam sejarah perjalanan gereja, membaca dan mewartakan firman Tuhan bukan hanya salah satu tugas gereja. Sebaliknya, firman menjadi hal yang sentral dalam kehidupan gereja. Yohanes Calvin, salah satu reformator gereja, menyebutkan bahwa di mana firman Tuhan diberitakan dan sakramen dilayankan di situlah gereja. Artinya, firman Tuhan menjadi ciri khas dan penanda gereja. Tidak ada gereja tanpa pemberitaan firman.

Dalam konteks kegelisaan dan harapan sebagaimana yang disebutkan di atas, BP Klasis GKP Klasis Wilayah Jakarta periode 2015-2017 kemudian mengambil inisiatif berani untuk membuat renungan harian, sebab kebutuhan akan hadirnya sebuah buku renungan harian yang dapat menjadi sahabat umat menjalani ziarah hidup sehari-hari tidak bisa dinafikan lagi. Namun, siapa yang mau menjalankannya? Kalau pun ada, apakah bisa bertahan lama? Kekuatiran soal daya tahan ini cukup beralasan, mengingat kecenderungan umumnya yang terjadi bahwa memulai sesuatu itu mudah, namun mempertahankannya, apalagi mengembangkannya sangatlah sulit. Terdapat tantangan dan kesulitan yang tidak semua orang bisa jalani. Di lingkungan GKP, ada beberapa produk yang akhirnya mati suri. Sebutlah Majalah Wawasan GKP di aras Sinode, atau pun Buletin Klasis Jakarta.

Karena itu, ketika BP Klasis Jakarta periode 2015-2017 mulai menggarap renungan harian, hal ini bisa disebut sebagai langkah berani. Apalagi, modal yang dimiliki saat itu hanya semangat. Tidak ada uang sepeser pun. Namun, kegelisan dan harapan untuk melakukan pembinaan yang berkelanjutan cukup memberikan energi bagi BP Klasis untuk memulai mengerjakan dan menghasilkan produk renungan harian di kala itu.

Sahabat dan Diakonia

Pdt. Rahardjo Prihartono adalah sosok tepat yang kemudian diminta oleh BP Klasis Jakarta sebagai pemimpin redaksi untuk ikut mewujudkan harapan memiliki produk renungan harian sendiri yang bisa dipakai di jemaat-jemaat GKP, di mulai dari jemaat-jemaat di lingkungan Klasis Wilayah Jakarta. Renungan harian ini kemudian diberi nama Sahabat. Nama ini dipilih sebab mudah diingat, dan memiliki makna yang mendalam. Perkataan Yesus sebagaimana yang dicatat dalam Injil Yohanes, “Aku tidak lagi menyebut engkau hamba, melainkan sahabat” turut menginspirasi pemberian nama ini. Di dalam nama “Sahabat” kita mengharapkan agar renungan harian ini dapat menjadi mitra umat dalam bergaul dengan Allah. Bahkan, seperti “nama kecilnya” kita mengharapkan bahwa melalui renungan harian Sahabat ini, warga yang membaca Sahabat dibimbing dan mengalami pertumbuhan di dalam iman, harapan, dan kasih akan Tuhan dan sesama. Kasih akan sesama itu tidak hanya menjadi sekadar jargon, tetapi sungguh-sungguh menjadi sikap nyata dari pelayanan umat dan renungan Sahabat itu sendiri. Karena itu, spirit pembuatan renungan Sahabat ini disertai dengan semangat berdiakonia.

Ada banyak renungan harian, namun kehadiran Sahabat memberi faktor pembeda. Apa pembedanya dari renungan harian lain? Ya, diakonia itu. Selisih dana atau persembahan yang terkumpul dari “penjualan” renungan Sahabat dipakai untuk berdiakonia. Siapa sasaran diakonia? Sejatinya, sasaran diakonia itu terbuka kepada siapa dan apa saja. Bisa kepada pos-pos jemaat tertentu, bisa kepada pribadi-pribadi tertentu, baik di dalam kehidupan gereja maupun di luar persekutuan gerejawi. Intinya, setiap orang dan lembaga yang membutuhkan akan disalurkan tanda kasih diakonia dari Sahabat.

Namun, Pokja Renungan Sahabat dan BP Klasis Jakarta memulai pelayanan diakonia ini dari pendeta dan keluarga pendeta yang sudah emeritus di lingkungan Klasis Jakarta, dan kemudian menjangkau juga klasis-klasis lain di Sinode GKP. Karena itu, sebetulnya dengan berlangganan dan membaca Sahabat, warga jemaat dan jemaatjemaat sudah ikut berdiakonia. Inilah nilai plus Sahabat. Renungan harian ini bukan renungan harian biasa. Inilah renungan yang menghadirkan semangat persahabatan Allah yang memulihkan dan memberdayakan dalam praktik-praktik diaonia yang nyata. Spirit diakonia ini memberikan kekuatan tambahan bagi BP Klasis dan Pokja Renungan Sahabat untuk memulai.

Kasih akan sesama itu kami tidak mau menjadi sekadar jargon, tetapi sungguh-sungguh menjadi sikap nyata dari pelayanan umat dan renungan Sahabat itu sendiri. Karena itu, spirit pembuatan renungan Sahabat ini disertai dengan semangat berdiakonia. Ada banyak renungan harian, namun kehadiran Sahabat memberi faktor pembeda. Apa pembedanya dari renungan harian lain? Ya, diakonia itu. Selisih dana atau persembahan yang terkumpul dari “penjualan” renungan Sahabat dipakai untuk berdiakonia.

Siapa sasaran diakonia? Sejatinya, sasaran diakonia itu terbuka kepada siapa dan apa saja. Bisa kepada pos-pos jemaat tertentu, bisa kepada pribadi-pribadi tertentu, baik di dalam kehidupan gereja maupun di luar persekutuan gerejawi. Intinya, setiap orang dan lembaga yang membutuhkan akan disalurkan tanda kasih diakonia dari Sahabat. Namun, Pokja Renungan Sahabat dan BP Klasis Jakarta memulai pelayanan diakonia ini dari pendeta dan keluarga pendeta yang sudah emeritus di lingkungan Klasis Jakarta, dan kemudian menjangkau juga klasis-klasis lain di Sinode GKP. Karena itu, sebetulnya dengan berlangganan dan membaca Sahabat, warga jemaat dan jemaatjemaat sudah ikut berdiakonia. Inilah nilai plus Sahabat. Renungan harian ini bukan renungan harian biasa. Inilah renungan yang menghadirkan semangat persahabatan Allah yang memulihkan dan memberdayakan dalam praktik-praktik diaonia yang nyata. Spirit diakonia ini memberikan kekuatan tambahan bagi BP Klasis dan Pokja Renungan Sahabat untuk memulai.

Sukacita di Tahun Ketiga

Tidak terasa, Renungan Harian Sahabat telah hadir selama lebih dari tiga tahun. Banyak hal yang terjadi dan pergumulan yang dilalui. 
Namun begitu, anugerah dan penyertaan Tuhan senantiasa menaungi setiap proses yang harus dirasakan. Setiap usaha dan jerih payah yang dilakukan terus menerus menjadikan renungan sahabat semakin dewasa dan kuat.

Semangat berdiakonia menjadi bahan bakar bagi setiap orang yang ambil bagian dalam pelayanan ini. Integritas redaksi dan tim terus berjuang dalam setiap naik-turunnya Buku Renungan Sahabat ini. Namun kami percaya, setiap hal yang boleh terjadi dan dapat bertahan semua adalah kehendak Allah, Bapa, Tuhan Kita.

Seperti seorang anak yang berusia 3 tahun, yang mulai berjalan pelan, semoga semangat yang ada dapat membuat produk pelayanan ini bisa berlari lebih kencang. Renungan Sahabat mengajak serta setiap orang yang mendukung dan memiliki perhatian terhadap pelayanan ini untuk hadir dalam acara:

IBADAH SYUKUR 3 TAHUN RENUNGAN SAHABAT 
Sabtu, 23 Februari 2019 
Pukul 10.00wib 
Di Gedung yang GKP Jemaat Kramat. 
Jl. Kramat Raya 
Pelayan Firman: Bpk Pendeta Edward Tureay @edotureay (Ketua Umum Sinode Gereja Kristen Pasundan)

Mari bersukacita bersama dalam pelayanan ini

Tuhan memberkati kita semua

nk Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *